Rabu, 03 Februari 2010
Jumat, 29 Januari 2010
Kamis, 28 Januari 2010
Rabu, 27 Januari 2010
Rabu, 29 April 2009
Jangan lupakan sisi keamanan (pada jaringan WiFi)
Saat ini semua orang sudah familiar dengan istilah Hot-Spot, WiFi (Wireless Fidelity), Jaringan Wireless dan sejenisnya. Layanan seperti ini akan mudah ditemui di berbagai tempat-tempat umum seperti kampus, hotel, rumah-makan, bandara dan lain-lain. Dengan menggunakan layanan WiFi, kita dengan mudah bisa terkoneksi ke Internet tanpa perlu dibebani kerepotan dengan menyambungkan kabel ke suatu alat yang disebut switch/hub. Tentunya kita harus memeliki peralatan seperti Notebook atau Mobile-Phone yang mendukung koneksi WiFi dan adanya software yang membantu koneksi peralatan kita tadi ke suatu alat yang sering disebut Access Point.
Dengan semakin terjangkaunya Access Point (AP) tersebut, mulai dengan harga 400 ribuan ke atas, tidak begitu sulit bagi kita untuk membuat sendiri suatu koneksi Wireless di rumah. Sebelumnya, kita bahas dulu apa sebenarnya Access Point itu. Access Point adalah suatu peralatan (device) yang digunakan untuk menyambungkan Notebook/PC/HP kita ke jaringan. AP semacam pengganti Switch/Hub yang mengharuskan kita menggunakan kabel. AP menggunakan gelombang radio sebagai pengganti kabel sehingga didapatkan kemudahan dan kepraktisan. Gelombang radio yang saat ini digunakan adalah frekuensi 2.4 GHz yang merupakan frekuensi ISM (Industrial, Scientific and Medical) yang secara khusus tidak memerlukan ijin walaupun harus diatur pemakaiannya agar tidak terjadi interferensi dengan layanan lain. Frekuensi ini secara umum mempunyai 2 range yang diadopsi yaitu IEEE 802.1b dengan kecepatan maksimal 11 Mbps dan IEEE 802.1g dengan kecepatan maksimal 54 Mbps.
Setelah kita membeli AP, yang pasti harus ada tentunya koneksi Intenet melalui ISP (Internet Service Provider). Kita bisa berlangganan melalui layanan Dial-Up menggunakan Analog Modem (misal TelkomNet Instan) atau bisa berlangganan Broadband Network melalui ADSL Modem (misal Speedy), 3.5G Modem (Telkomsel, Indosat, XL dll), CDMA Modem maupun Permanent Connection lain ke berbagai ISP. Koneksi ke ISP inilah yang nanti akan menentukan seberapa cepat koneksi Internet anda di Notebook/PC/HP yang terkoneksi ke AP, bukan ditentukan dari kecepatan koneksi AP ke Notebook/PC/HP anda. Jadi walaupun terkoneksi ke AP dengan kecepatan 1 Mbps pun, belum tentu kecepatan koneksi Internet lebih rendah dari koneksi ke AP lain yang kecepatannya 54 Mbps.
AP kemudian kita koneksikan ke modem dengan beberapa konfigurasi yang disesuaikan dengan persyaratan ISP. Misal setting IP Address, Gateway, DNS Server dan lain lain. Secara teknis, AP ini akan berfungsi sebagai Router/Gateway bagi jaringan Wireless anda. Biasanya pihak ISP akan membantu anda dalam setting ini. Selanjutnya, setting AP dengan mengaktifkan fungsi DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) agar Notebook/PC/HP yang terkoneksi akan mendapatkan IP Address secara otomatis. Jangan lupakan fitur keamanan juga harus diaktifkan misal WEP/WPA yang berfungsi sebagai pengaman jalur Wireless (enkripsi) agak tidak mudah disadap oleh orang lain. Ingat, WiFi akan memancarkan gelombang radio kemana-mana, sehingga siapapun bisa melihat dan membaca komunikasi data yang sedang kita lakukan. Bahkan sebaiknya juga, kita aktifkan fungsi otentikasi (pengenalan) agar yang bisa koneksi hanya anggota keluarga kita, bukan ke siapa saja termasuk tetangga anda yang nanti bisa menikmati Internet gratis tanpa berlangganan. Hal ini sering terjadi dimana layanan WiFi dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, karena tidak diaktifkannya fungsi-fungsi Security (keamanan). Selain ancaman keamanan, tentunya kecepatan akses Internet kita juga bakal lambat, karena dibagi dengan orang lain yang tidak berhak. Semoga kiat-kiat sederhana ini bisa membantu anda dalam membangun jaringan Wireless di rumah.
Saat ini semua orang sudah familiar dengan istilah Hot-Spot, WiFi (Wireless Fidelity), Jaringan Wireless dan sejenisnya. Layanan seperti ini akan mudah ditemui di berbagai tempat-tempat umum seperti kampus, hotel, rumah-makan, bandara dan lain-lain. Dengan menggunakan layanan WiFi, kita dengan mudah bisa terkoneksi ke Internet tanpa perlu dibebani kerepotan dengan menyambungkan kabel ke suatu alat yang disebut switch/hub. Tentunya kita harus memeliki peralatan seperti Notebook atau Mobile-Phone yang mendukung koneksi WiFi dan adanya software yang membantu koneksi peralatan kita tadi ke suatu alat yang sering disebut Access Point.
Dengan semakin terjangkaunya Access Point (AP) tersebut, mulai dengan harga 400 ribuan ke atas, tidak begitu sulit bagi kita untuk membuat sendiri suatu koneksi Wireless di rumah. Sebelumnya, kita bahas dulu apa sebenarnya Access Point itu. Access Point adalah suatu peralatan (device) yang digunakan untuk menyambungkan Notebook/PC/HP kita ke jaringan. AP semacam pengganti Switch/Hub yang mengharuskan kita menggunakan kabel. AP menggunakan gelombang radio sebagai pengganti kabel sehingga didapatkan kemudahan dan kepraktisan. Gelombang radio yang saat ini digunakan adalah frekuensi 2.4 GHz yang merupakan frekuensi ISM (Industrial, Scientific and Medical) yang secara khusus tidak memerlukan ijin walaupun harus diatur pemakaiannya agar tidak terjadi interferensi dengan layanan lain. Frekuensi ini secara umum mempunyai 2 range yang diadopsi yaitu IEEE 802.1b dengan kecepatan maksimal 11 Mbps dan IEEE 802.1g dengan kecepatan maksimal 54 Mbps.
Setelah kita membeli AP, yang pasti harus ada tentunya koneksi Intenet melalui ISP (Internet Service Provider). Kita bisa berlangganan melalui layanan Dial-Up menggunakan Analog Modem (misal TelkomNet Instan) atau bisa berlangganan Broadband Network melalui ADSL Modem (misal Speedy), 3.5G Modem (Telkomsel, Indosat, XL dll), CDMA Modem maupun Permanent Connection lain ke berbagai ISP. Koneksi ke ISP inilah yang nanti akan menentukan seberapa cepat koneksi Internet anda di Notebook/PC/HP yang terkoneksi ke AP, bukan ditentukan dari kecepatan koneksi AP ke Notebook/PC/HP anda. Jadi walaupun terkoneksi ke AP dengan kecepatan 1 Mbps pun, belum tentu kecepatan koneksi Internet lebih rendah dari koneksi ke AP lain yang kecepatannya 54 Mbps.
AP kemudian kita koneksikan ke modem dengan beberapa konfigurasi yang disesuaikan dengan persyaratan ISP. Misal setting IP Address, Gateway, DNS Server dan lain lain. Secara teknis, AP ini akan berfungsi sebagai Router/Gateway bagi jaringan Wireless anda. Biasanya pihak ISP akan membantu anda dalam setting ini. Selanjutnya, setting AP dengan mengaktifkan fungsi DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) agar Notebook/PC/HP yang terkoneksi akan mendapatkan IP Address secara otomatis. Jangan lupakan fitur keamanan juga harus diaktifkan misal WEP/WPA yang berfungsi sebagai pengaman jalur Wireless (enkripsi) agak tidak mudah disadap oleh orang lain. Ingat, WiFi akan memancarkan gelombang radio kemana-mana, sehingga siapapun bisa melihat dan membaca komunikasi data yang sedang kita lakukan. Bahkan sebaiknya juga, kita aktifkan fungsi otentikasi (pengenalan) agar yang bisa koneksi hanya anggota keluarga kita, bukan ke siapa saja termasuk tetangga anda yang nanti bisa menikmati Internet gratis tanpa berlangganan. Hal ini sering terjadi dimana layanan WiFi dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, karena tidak diaktifkannya fungsi-fungsi Security (keamanan). Selain ancaman keamanan, tentunya kecepatan akses Internet kita juga bakal lambat, karena dibagi dengan orang lain yang tidak berhak. Semoga kiat-kiat sederhana ini bisa membantu anda dalam membangun jaringan Wireless di rumah.
Senin, 20 April 2009
Dampak Media Bagi Remaja

Para ahli komunikasi mengatakan, media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai Dampak pada diri seseorang atau sekelompok orangakibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, Dampak emosional berhubungan dengan perasaan (senang, sedih, marah, sinis dan sebagainya Dampak kognitif juga mencakup niat, tekad, upaya, dan usaha yang berkecenderungan diwujudkan menjadi suatu kegiatan. Media massa tidak hanya memiliki Dampak langsung terhadap individu, tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Media massa menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audience nya untuk memilih dan menjadikan acuan bagi pelakunya.
Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya.
Beranjak dari kondisi-kondisi diatas, remaja sering merasa kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau remaja tersebut berusaha mencari atau menunjukkan eksisensinya melalui bidang-bidang yang dikuasainya. Dalam pencapaian eksistensi diri ini, remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Apablia ia berada di tengah-tengah lingkungan yang berpendidikan, ia cenderung mengambil suatu sikap atau tindakan dimana orang lain bisa melihat dirinya mampu dibidang akademis. Ia akan cenderung rajin belajar, memperkaya pengetahuan dari buku-buku yang tidak didapatkan di sekolah.
Umumnya, remaja lebih peka terhadap reaksi-reaksi lingkungan yang ada disekitarnya daripada sebelumnya. Baik itu dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya. Informasi-informasi baru selalu menarik perhatiannya. Kecenderungan bereksperimen (coba-coba) juga cukup tinggi, karena memang remaja belum mempunyai pola atau konsep yang mantap tentang masa depannya. Semua yang baru ingin dicobanya. Kecenderungan ini lebih kuat lagi karena keadaan emosinya yang masih labil. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak remaja yang menurutkan emosinya. Yang ada dalam pikirannya hanya “pokoknya saya berhasil” “pokoknya saya mandiri” “pokoknya saya pengen punya pengalaman” dll. Dorongan-dorongan semacam itu tidak dibarengi dengan pertimbangan apakah hal ini cocok untuk dirinya, bagaimana seandainya kalau saya sudah benar-benar masuk kedalamnya dan pertimbangan jangka panjang lainnya.
Dalam kaitannya dengan tayangan iklan baik di televisi maupun majalah, yang banyak menawarkan produk-produk remaja, remaja akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif demi penampilan mereka. Remaja putri akan menjadi lebih boros untuk membelanjakan uang sakunya untuk membeli parfume, bedak, lipgloss, dan lain-lain. Sedangkan remaja pria,akan membeli produk-produk mahal yang dapat menunjang penampilan dirinya didepan perempuan.
Gaya hidup yang ditawarkan dalam majalah remaja maupun dalam sinetronpun adalah gaya hidup hedonis sebagai remaja kota besar yang tertular dari gaya hidup Barat. Dan untuk menunjang gaya hidup itu, remaja didorong untuk mengkonsumsi barang-barang dengan merek-merek mancanegara yang harganya tidak murah. Mereka diajarkan untuk mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casting HP yang berganti-ganti, dan sebagainya. Melalui penyampaian gaya hidup mewah ini, remaja diajarkan untuk boros dan menjadi tidak kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
Bagi remaja putri, mereka dididik untuk menjadi perempuan yang menarik penampilannya dengan merawat wajah dan tubuhnya, yang kelak jika ia dewasa nanti akan mendapatkan seorang suami yang mapan dan tampan. Dan jika ia menikah nanti akan menjadi istri yang disayang suami karena terus menerus merawat tubuhnya dan ibu yang bertanggungjawab karena ia berhasil mengurus seluruh domestik keluarga dari mulai dapur sampai mendidik anak-anak. Stereotype perempuan yang hanya menjadi pendamping dan obyek pelengkap laki-laki, akan terus menerus diinternalisasikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui tayangan iklan dan sinetron yang bias gender.
Lebih jauh dampak nya bagi remaja, melalui adanya berita-berita di media cetak yang sarat akan kalimat-kalimat yang vulgar dan melecehkan perempuan, akan mengajarkan mereka nilai-nilai budaya patriarki yang hanya melihat perempuan sebagai objek seksualitas. Akibatnya sejak usia remaja, sudah tertanam dalam pandangan mereka jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi. Bahkan lebih jauh lagi, dengan semakin mudahnya remaja mengakses VCD porno dan internet yang menampilkan gambar-gambar porno, akan membuat para remaja penasaran untuk mencobanya, melalui kehidupan Free Sex atau bahkan jika hasrat seksualnya tinggi, bisa sampai berani melakukan perkosaan.
(http://geblek.net/2004/12/16/dampak -media-bagi-remaja-perempuan/ )
Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya.
Beranjak dari kondisi-kondisi diatas, remaja sering merasa kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau remaja tersebut berusaha mencari atau menunjukkan eksisensinya melalui bidang-bidang yang dikuasainya. Dalam pencapaian eksistensi diri ini, remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Apablia ia berada di tengah-tengah lingkungan yang berpendidikan, ia cenderung mengambil suatu sikap atau tindakan dimana orang lain bisa melihat dirinya mampu dibidang akademis. Ia akan cenderung rajin belajar, memperkaya pengetahuan dari buku-buku yang tidak didapatkan di sekolah.
Umumnya, remaja lebih peka terhadap reaksi-reaksi lingkungan yang ada disekitarnya daripada sebelumnya. Baik itu dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya. Informasi-informasi baru selalu menarik perhatiannya. Kecenderungan bereksperimen (coba-coba) juga cukup tinggi, karena memang remaja belum mempunyai pola atau konsep yang mantap tentang masa depannya. Semua yang baru ingin dicobanya. Kecenderungan ini lebih kuat lagi karena keadaan emosinya yang masih labil. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak remaja yang menurutkan emosinya. Yang ada dalam pikirannya hanya “pokoknya saya berhasil” “pokoknya saya mandiri” “pokoknya saya pengen punya pengalaman” dll. Dorongan-dorongan semacam itu tidak dibarengi dengan pertimbangan apakah hal ini cocok untuk dirinya, bagaimana seandainya kalau saya sudah benar-benar masuk kedalamnya dan pertimbangan jangka panjang lainnya.
Dalam kaitannya dengan tayangan iklan baik di televisi maupun majalah, yang banyak menawarkan produk-produk remaja, remaja akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif demi penampilan mereka. Remaja putri akan menjadi lebih boros untuk membelanjakan uang sakunya untuk membeli parfume, bedak, lipgloss, dan lain-lain. Sedangkan remaja pria,akan membeli produk-produk mahal yang dapat menunjang penampilan dirinya didepan perempuan.
Gaya hidup yang ditawarkan dalam majalah remaja maupun dalam sinetronpun adalah gaya hidup hedonis sebagai remaja kota besar yang tertular dari gaya hidup Barat. Dan untuk menunjang gaya hidup itu, remaja didorong untuk mengkonsumsi barang-barang dengan merek-merek mancanegara yang harganya tidak murah. Mereka diajarkan untuk mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casting HP yang berganti-ganti, dan sebagainya. Melalui penyampaian gaya hidup mewah ini, remaja diajarkan untuk boros dan menjadi tidak kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
Bagi remaja putri, mereka dididik untuk menjadi perempuan yang menarik penampilannya dengan merawat wajah dan tubuhnya, yang kelak jika ia dewasa nanti akan mendapatkan seorang suami yang mapan dan tampan. Dan jika ia menikah nanti akan menjadi istri yang disayang suami karena terus menerus merawat tubuhnya dan ibu yang bertanggungjawab karena ia berhasil mengurus seluruh domestik keluarga dari mulai dapur sampai mendidik anak-anak. Stereotype perempuan yang hanya menjadi pendamping dan obyek pelengkap laki-laki, akan terus menerus diinternalisasikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui tayangan iklan dan sinetron yang bias gender.
Lebih jauh dampak nya bagi remaja, melalui adanya berita-berita di media cetak yang sarat akan kalimat-kalimat yang vulgar dan melecehkan perempuan, akan mengajarkan mereka nilai-nilai budaya patriarki yang hanya melihat perempuan sebagai objek seksualitas. Akibatnya sejak usia remaja, sudah tertanam dalam pandangan mereka jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi. Bahkan lebih jauh lagi, dengan semakin mudahnya remaja mengakses VCD porno dan internet yang menampilkan gambar-gambar porno, akan membuat para remaja penasaran untuk mencobanya, melalui kehidupan Free Sex atau bahkan jika hasrat seksualnya tinggi, bisa sampai berani melakukan perkosaan.
(http://geblek.net/2004/12/16/dampak -media-bagi-remaja-perempuan/ )
Langganan:
Komentar (Atom)


